Tuesday, 19 April 2016

Berdoalah dengan rendah diri dan tidak mengeraskan suara


Berdoalah dengan rendah diri dan tidak mengeraskan suara

Allah berfirman:
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatiumu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai.
(Al-A’raaf 7:205)

Ibnu Kathir berkata; “Begitulah zikir yang dianjurkan, iaitu tidak dengan seruan dan tidak menyaringkan suara” (Tafsir al-Quranul ‘Azhim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَاأَيُّهَاالنَّاسُ اِرْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّ مَنْ تَدْعُوْنَهُ لَيْسَ بأَصَمَّ وَلاَغَائِبٍ إِنَّمَا تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا إِنَّمَا تَدْعُوْنَ مَنْ هُوَ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِ كُمْ مِنْ غُنُقِ رَا حِلَتِهِ إِلَيْهِ

“Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula jauh. Sesunguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri” (HR Muslim dan Ahmad)


Di Siang Hari sebagai Penyihir, Di akhir hari Sebagai Syuhada'


Di Siang Hari sebagai Penyihir, Di akhir hari Sebagai Syuhada'


Hidayah itu benar-benar adalah milik Allah.
Tercatat didalam al-Quran, adanya golongan yang disiang hari mereka adalah orang yang paling dimurkai Allah, mereka mensyirikkan Allah, namun di akhir hari mereka mati sebagai Syuhada'. Subhanallah.
Mereka itulah para penyihir dimasa Fir'aun, yang diawal hari nya, mereka bertanding kekuatan dengan Nabi Musa, mereka melakukan sehebat-hebat sihir dizamannya, namun setelah mereka dikalahkan oleh Mukjizat yang Allah berikan pada Nabi Musa, lalu terzahirlah pada diri mereka berkenaan kebenaran agama Nabi Musa, mereka mengikhlaskan diri dan kembali menyerah diri kepada Allah. Akhirnya mereka telah mati sebagai Syuhada' ketika dibunuh dengan kejam oleh Fir'aun.
Kisah ini diceritakan oleh Allah dengan panjang lebar pada surah al-A'raaf ayat 113 - 126.
Merekalah yang disebut oleh para Ulama', antaranya Ibnu 'Abbas, sebagai:
كانوا في أول النهار سحرة ، وفي آخره شهداء
"Pada awal hari, mereka adalah para Penyihir. Dan di akhir hari, mereka adalah para Syuhada'" (Ath-Thabari)

AYAH

AYAH...
Ayah memang tidak mengandungmu, tapi dalam darahmu, mengalir darahnya...
Ayah memang tidak melahirkanmu, tapi suaranyalah yang pertama kau dengar ketika lahir untuk menenangkan jiwamu....
Ayah memang tidak menyusuimu, tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu...
Ayah memang tidak menyanyikanmu, agar kau tertidur, tapi dialah yang menjamin kau tetap nyaman dalam lelapmu...
Ayah memang tidak mendekapmu seerat ibumu, itu karena dia khawatir karena cintanya ia tidak bisa melepaskanmu.. ketika kau sudah bisa membangun sendiri hidupmu...
Ayahmu tidak pernah kau lihat menangis, bukan karena hatinya keras, tapi agar kau tetap percaya, dia kuat untuk kau bisa bergantung dilengannya...
Sayangi dan hormati ayahmu.. memang surga ada ditelapak kaki ibumu, tapi tidak ada surga untukmu tanpa keridhaannya...
Memang kau diminta mendahulukan ibumu, tapi ayahmu adalah jiwa raga ibumu...

Monday, 18 April 2016

RENUNGAN


Renungan:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui perkara yang zahir nyata dari kehidupan dunia sahaja, dan mereka tidak pernah ingat hendak mengambil tahu tentang hari akhirat.  Al Rum:7

Sunday, 17 April 2016

GANJARAN BESAR BUAT KERJA DAKWAH



GANJARAN YANG BESAR KEPADA MEREKA YANG MENYAMPAIKAN DAKWAH DI JALAN ALLAH.

Daripada Saidina Sahl bin Sa'ad Radhiayallahu 'Anhu, bahawa Rasulullah Sollallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda pada hari Peperangan Khaibar :

"Aku akan berikan panji-panji ini kepada seorang lelaki yang akan Allah mengurniakan kemenangan dengannya. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya.

Saidina Sahl Radhiayallahu 'Anhu berkata :

Pada malam tersebut, para sahabat saling bercakap sesama mereka tentang siapakah lelaki tersebut.

Apabila menjelang waktu pagi, para sahabat bersegera untuk bertemu dengan Rasulullah Sollallahu 'Alaihi Wa Sallam. Mereka semua bercita-cita agar Rasulullah menyerahkan panji-panji yang dijanjikan itu kepadanya.

Rasulullah Sollallahu Alaihi Wa Sallam bertanya :

Di manakah Ali bin Abi Talib?

Para sahabat menjawab :

Dia mengadu sakit pada kedua-dua belah matanya.

Para sahabat membawakan Saidina Ali untuk bertemu dengan Rasulullah. Baginda pun meludahkan air liur Baginda ke arah kedua-dua mata Saidina Ali serta mendoakan kesembuhan untuknya. Lantas Saidina Ali sembuh dan merasakan seolah-olah dia tidak pernah berasa sakit sebelum ini.

Lalu Rasulullah Sollallahu 'Alaihi Wa Sallam menyerahkan panji-panji kepada Saidina Ali Radhiayallahu 'Anhu.

Saidina Ali berkata kepada Rasulullah :

Wahai Rasulullah, adakah aku memerangi mereka sehinggalah mereka menjadi seperti kita?

Baginda menjawab :

"Laksanakanlah tugasmu itu sehingga apabila kamu berada di medan mereka, serulah mereka kepada Islam dan beritahulah kepada mereka tentang perkara yang wajib mereka lakukan daripada hak Allah.

Demi Allah, kamu menjadi penyebab kepada seorang lelaki mendapat hidayah Allah adalah lebih baik daripada kamu memiliki unta merah."

Hadith riwayat al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

Humur an-Na'am - حمر النعم adalah unta merah yang merupakan harta yang paling berharga di kalangan orang Arab. Dijadikan kiasan kepada sesuatu yang sangat bernilai. Bahkan tiada sesuatu yang lebih berharga daripadanya. Kiasan tersebut adalah untuk memudahkan kefahaman.

Hadith ini menjelaskan tentang kelebihan ilmu dan menyeru kepada hidayah dan memulakan suatu amalan yang baik kemudian diikuti oleh orang ramai.

"Ya Allah, taufiqkanlah kami dan zuriat kami untuk termasuk di kalangan mereka yang mencintai ilmu dan dakwah di Jalan-Mu."

Abu Anas Madani
Ahad, 7 Rejab 1437H - 17 April 2016.

HIMPUNAN HADIS-HADIS PALSU

Himpunan hadis-hadis PALSU tentang keutamaan solat dan puasa di bulan Rejab.

HADITS PERTAMA

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ.

“Rejab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.

Keterangan : HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat 650H): “Hadits ini maudhu’.”
[Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]

Hadis tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan hadis itu ada lafaz :

لاَ تَغْفُلُوْا عَنْ أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ فَإِنَّهَا لَيْلَةٌ تُسَمِّيْهَا الْمَلاَئِكَةُ الرَّغَائِبَ…

“Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jumaat pertama di bulan Rejab, kerana malam itu Malaikat menamakannya Raghaa-ib…”

Keterangan : HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Ibnul Qayyim (wafat 751H) :
“Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin Sa’id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Abdullah as-Shan’any, dari Humaid ath-Thawil dari Anas, secara marfu’.
[Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha’if (no. 168-169)]

Kata Ibnul Jauzi (wafat 597H) :
“Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata : “Rawi-rawi hadis tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenali), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak mendapati biografi hidup mereka.”
[Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzi]

Imam adz-Dzahaby berkata :
“ ’Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadis.”

Kata para ulama lainnya :
“Dia dituduh membuat hadis palsu tentang solat ar-Raghaa-ib.”

Periksa : Mizaanul I’tidal (III/142-143, no. 5879).

HADITS KEDUA

فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ وَفَضْلُ شَهْرِ شَعْبَانَ كَفَضْلِي عَلىَ سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ، وَفَضْلُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى سَائِرِ العِبَادِ.

“Keutamaan bulan Rejab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur'an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.”

Keterangan : HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadis ini palsu.”
Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat 1014H).

HADITS KETIGA:

مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا عِشْرِيْنَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدُ مَرَّةً، وَيُسَلِّمُ فِيْهِنَّ عَشْرَ تَسْلِيْمَاتٍ، أَتَدْرُوْنَ مَا ثَوَابُهُ ؟ فَإِنَّ الرُّوْحَ اْلأَمِيْنَ جِبْرِيْلُ عَلَّمَنِيْ ذَلِكَ. قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ: حَفِظَهُ اللَّهُ فِيْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَأُجِيْرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ.

“Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rejab, kemudian solat sesudahnya dua puluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab kubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’”

Keterangan : HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Ibnul Jauzi: “Hadis ini palsu dan kebanyakkan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenali biografinya).”

Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani (wafat  963H).

HADITS KEEMPAT

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍٍ وَصَلَّى فِيْهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِيْ أَوَّ لِ رَكْعَةٍ مِائَةَ مَرَّةٍِ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَ فِي الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ مِائَةَ مَرَّةٍِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد, لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ.

“Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rejab dan solat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Syurga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati).

Keterangan : HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Ibnul Jauzy: “Hadis ini palsu, dan rawi-rawinya majhul (tidak dikenali) serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits.” [Al-Maudhu’at (II/123-124)]

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]

HADITS KELIMA

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ عَدَلَ صِيَامَ شَهْرٍ.

“Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rejab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.”

Keterangan : HADITS INI (ضَعِيْفٌ جِدًّا) SANGAT LEMAH

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu’.
Dalam sanad hadis ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa-ib, dia adalah seorang perawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id al-Majmu’ah (no. 290)]

Kata Imam an-Nasa-i: “Furaat bin as-Saa-ib Matrukul hadis.” Dan kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: “Para Ahli Hadis meninggalkannya, kerana dia seorang perawi munkarul hadis, serta dia termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni.”

Lihat adh-Dhu’afa wa Matrukin oleh Imam an-Nasa-i (no. 512), al-Jarh wat Ta’dil (VII/80), Mizaanul I’tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).

HADITS KEENAM

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْراً يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضاً مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ العَسَلِ، مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْماً وَاحِداً سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ.

“Sesungguhnya di Syurga ada sungai yang dinamakan ‘Rejab’ airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rejab maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu.”

Keterangan : HADITS INI (بَاطِلٌ) BATHIL

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Imran, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, …”

Imam adz-Dzahaby berkata: “Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rejab. Mansyur bin Yazid adalah perawi yang tidak dikenali dan khabar (hadis) ini adalah bathil.” [Lihat Mizaanul I’tidal (IV/ 189)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Musa bin ‘Imraan adalah majhul dan aku tidak mengenalnya.”

Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 1898).

HADITS KETUJUH

مَنْ صَامَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ كُتِبَ لَهُ صِيَامُ شَهْرٍ وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ أَغْلَقَ اللهُ عَنْهُ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ مِنَ النَّارِ وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ فَتَحَ اللهُ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ نِصْفَ رَجَبَ حَاسَبَهُ اللهُ حِسَاباً يَسِيْراً.

“Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rejab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rejab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rejab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Syurga. Dan barangsiapa puasa nisfu (setengah bulan) Rejab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.”

Keterangan : HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU

Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits al-Maudhu’ah (no. 288). Setelah membawakan hadis ini asy-Syaukani berkata: “Suyuthi membawakan hadis ini dalam kitabnya, al-Laaliy al-Mashnu’ah, ia berkata: ‘Hadis ini diriwayatkan dari jalan Amr bin al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu’.’”

Dalam sanad hadis tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:

1. ‘Amr bin al-Azhar al-‘Ataky.
Imam an-Nasa -i berkata: “Dia Matrukul Hadis.” Sedangkan kata Imam al-Bukhari: “Dia dituduh sebagai pendusta.” Kata Imam Ahmad: “Dia sering memalsukan hadis.”

Periksa, adh-Dhu’afa wal Matrukin (no. 478) oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul I’tidal (III/245-246), al-Jarh wat Ta’dil (VI/221) dan Lisaanul Mizaan (IV/353).

2. Abaan bin Abi ‘Ayyasy, seorang Tabi’in shaghiir.
Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadits (ditinggalkan hadisnya).” Kata Yahya bin Ma’in: “Dia matruk.” Dan beliau pernah berkata: “Dia perawi yang lemah.”

Periksa: Adh Dhu’afa wal Matrukin (no. 21), Mizaanul I’tidal (I/10), al-Jarh wat Ta’dil (II/295), Taqriibut Tahdzib (I/51, no. 142).

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dari jalan Ibnu ‘Ulwan dari
Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: “Ibnu ‘Ulwan adalah pemalsu hadis.” [Lihat al-Fawaaidul Majmu’ah (hal. 102, no. 288)]

Dinukil dari,
https://almanhaj.or.id/1523-hadits-hadits-palsu-tentang-keutamaan-shalat-dan-puasa-di-bulan-rajab.html

---------------------

Rujukan Tambahan,

Penilaian Semula Amalan-amalan di bulan Rejab...Shahihkah ia?
http://www.ilmusunnah.com/017-penilaian-semula-amalan-amalan-di-bulan-rejab-sahihkah-ia/

<< #HimpunanHadisPalsu >>

Saturday, 16 April 2016

ANTARA WAKTU DOA MUSTAJAB.

Tahajjud mungkin dimaksudkan ialah pada solat malam atau Qiamullail di 1/3 akhir malam.


عَنْ جَابِرٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " إِنَّ مِنَ اللَّيْلِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ


Jabir radiallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya pada waktu malam ada satu ketika yang tidaklah seorang Muslim memohon kebaikan daripada Allah ketika itu melainkan Allah akan memberikan kepadanya. [Sahih Muslim, Kitab Solat al-Musafirin, hadis no: 1266]


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ , يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ


Abu Hurairah radiallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tuhan kami turun ke langit dunia setiap malam pada seperti akhir malam. Allah berkata: Siapa yang berdoa kepada Aku, pasti Aku akan makbulkan. Sesiapa yang meminta kepada Aku pasti Aku akan berikan kepadanya. Sesiapa yang memohon keampunan kepada Aku, pasti Aku ampuni dia. [Sahih al-Bukhari, Kitab al-Jum’ah, hadis no: 1083].
Ketika sujud pula:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ " .


Abu Hurairah radiallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seseorang akan paling dekat dengan Tuhannya ketika sujud. Banyakkanlah doa. [Sahih Muslim, Kitab as-Solat, hadis no: 749]
Antara azan dan iqamah pula:


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ " . قَالَ أَبُو عِيسَى : حَدِيثُ أَنَسٍ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Anas bin Malik radiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Doa yang tidak ditolak ialah doa antara azan dan iqamah. [Sunan at-Tirmizi, Kitab as-Solat, hadis no: 196, hasan sahih]
Wallahua'lam.